Motivasi

Jumat, 10 Juni 2011

Rezeki dari Banyak Gelas

Penulis: Oji Faoji
Kamis (9/6) malam

REZEKI adalah lima huruf yang kehadirannya sangat diharapkan semua orang. Dengan rezeki orang bisa mencukupi segala kebutuhannya.
Tetapi sesungguhnya, rezeki juga saya pikir bisa diartikan yang lebih luas, yang intinya adalah tertanam kebahagiaan setelah mendapatkannya. Sebab rezeki itu adalah dari Allah (Rizkum Minallah).

Pada tulisan ini, saya akan memfokuskan pembahasan pada rezeki berupa kekayaan harta, dalam hal ini adakah uang.

Kalau saya merasa yakin bahwa rezeki itu sepereti hujan yang diberikan Allah. Hanya saja, hujan rezeki ini adalah hujan yang tidak digantikan kemarau. Karena itu, tidak ada pilihan bagi kita untuk mendapatkan rezeki, terkecuali dengan menadahnya.

Menadahnya dengan tangan, tentu tidak akan bisa mendapat banyak. Rezeki yang beranalogi hujan itu harus ditadang menggunakan tempat, apakah ember atau bak berbagai ukuran. Asal jangan yang bocor. Kalau pun ember atau bak tidak punya, ya sekadar gelas harus ada.

Saya sendiri saat ini merasa bangga dengan hanya memiliki satu gelas yang saya yakin gelas bergagang (gelas yang paling besar). Tetapi memang masih perlu cukup, karena kebutuhan hidup terus bergulir. Sehingga, saya perlu menciptakan gelas-gelas bergagang lainnya agar air hujan (rezeki) yang saya dapatkan bisa lebih banyak.

Satu gelas yang saya maksud adalah saat ini saya bekerja di sebuah perusahaan media, yaitu Banten Raya Post, yang saya sendiri bangga ikut berkarier di dalamnya. Saya menilai bahwa tempat penampung rezeki saya saat ini belum besar, sehingga perlu lebih diperbesar, misalnya dari semula hanya gelas bergagang, menjadi ember.

Tetapi tentunya, saya tidak boleh menunggu gelas bergang itu menjadi ember, karena untuk menjadi ember. Lebih baik, saya menambah wadah alias tempat penampung rezeki lain, meskipun hanya gelas kecil.

Gelas kecil itu saat ini kondisinya masih saya buat dan saya yakin tidak perlu menunggu lama, sudah utuh hingga mampu menampung rezeki. Lebih jelasnya bahwa saat ini, saya sedang melakukan proses pembelajaran untuk berprofesi sebagai seorang motivator. Saya percaya bahwa dengan berprofesi sebagai motivator, saya memiliki penghasilan tambahan selain dari profesi saya saat ini sebagai wartawan.

Saya bermimpi bahwa kelak saya bisa menciptakan banyak wadah meskipun hanya gelas yang bisa menampung sedikit rezeki, yang jika isi dari gelas tersebut dikumpulkan bisa memenuhi ember.

Tapi saya juga merasa yakin dan percaya bahwa mimpi saya tersebut bisa tercapai, karena saya akan berusaha untuk mencapainya. Bahkan nanti, wadah tersebut bukan berupa gelas-gelas yang banyak, tetapi menjadi ember-ember yang banyak atau justru bak-bak yang banyak, sehingga jika dikumpulkan isi rezeki dari bak-bak penampungan tersebut, menjadi sebuah kolam.

Jika saya sudah mampu menciptakan kolam yang bahkan tidak hanya satu atau dua, saya pasti akan mencari orang-orang yang belum memiliki wadah (pekerjaan) untuk saya berikan wadah tersebut, dan bila perlu saya isi wadah tersebut untuk mereka kembangkan agar bisa menciptakan banyak wadah tempat menampung rezeki.

Saya yakin dan percaya bahwa Allah menyebarkan rezeki tersebut secara luas. Hanya saja, tempat penampung rezeki kita yang harus dimaksimalkan, yaitu ditambah atau diperbesar.

Mari berjuang keras dan saya yakin dan percaya bahwa kita akan menjadi Juara yang memiliki banyak rezeki. (*)

Rabu, 08 Juni 2011

Aku Sukses Setelah ‘Gila’

Penulis: Oji Faoji
Rabu 8 Juli 2011 Dini Hari

SAYA ingin sampaikan bahwa sesungguhnya tulisan ini hanya untuk konsumsi pribadi, karena menceritakan pengalaman pribadi. Tetapi bagi yang ingi tahu, silakan ikut baca dan terbuka juga untuk umum. Hehehe...

Saya menjadi ‘Gila’ hanya dalam waktu dua pekan setelah mulai gemar membaca beberapa buku karya motivator terkemuka di Indonesia, bahkan tingkat dunia.

Mulanya, ketika datang ke sebuah toko buku di Cilegon pada 16 Mei 2011, mata saya langsung tertuju pada sebuah buku berjudul Percepatan Rezeki Dalam 40 Hari dengan Otak Kanan, karya penulis mega-bestseller Ippho Santosa. Setelah membacanya, kemudian tertarik dan saya coba memperdalam lagi dengan bacaan lain. Ternyata, pada 28 Mei 2010, saya juga menemukan buku yang tepat, yaitu karya motivator dan penulis bestseller lainnya, Bong Chandra. Bukunya berjudul The Science of Luck. Setiap hari dari sejak menemukan buku Ippho Santosa, membca buku-buku terkait motivasi tidak saya lewatkan. Malam, siang, sore selalu saya baca.

Terlebih secara kebetulan, ternyata saya juga memiliki buku terkait, yaitu buku Terapi Kekuatan Pikiran, karya Marc Salem, penulis bestseller di tiga benua, Amerika, Eropa, dan Australia. Selain itu juga memiliki buku self hypnosis, karya pakar hypnosis tingkat dunia.

Keempat buku tersebut yang buat saya berangsur-angsur menjadi ‘Gila’. Terjadi perubahan pola pikir yang begitu cepat, antara lain, di dinding facebook, saya hanya menuliskan status tentang motivasi, baik itu kutipan dari buku-buku yang saya baca, ada juga yang memang saya yang menciptanya.

Status yang ditulis di facebook itu sesungguhnya bukan untuk dikomentari, tetapi lebih kepada menguatkan tekad untuk merubah cara pandang diri saya sendiri.

Timbul sebuah keinginan untuk bertemu dengan seorang motivator, dan tak lama, seorang teman, bernama Haikal Ayi Fatihi, menawakan saya untuk mengikuti sebuah workshop motivasi yang motivatornya adalah orang Banten. Saya coba katakan kepada teman tersebut untuk mempertemukan saya dengan motivator bernama Geanez Reza. Dan benar saja, hanya butuh waktu 2 jam dari keinginan itu, saya dipertemukan dengan Reza pada 4 Juni 2011, yang kebetulan juga tengah berada di Cilegon. Padahal Reza biasanya sibuk, karena ia juga adalah seorang direktur di sebuah perusahaan.

Setelah terlibat perbincangan selama sekitar 3 jam sejak pukul 17.00 WIB, saya kemudian pulang dan menggali lagi apa yang disampaikan Reza dalam pertemuan tersebut. Teringat Reza yang mengatakan tentang terapi kekuatan pikiran, saya buka lagi buku karya Marc Salem tersebut, dan ternyata saya lebih memahami banyak hal. Antara lain, bahwa pemikiran dapat mempengaruhi tubuh. Artinya, pikiran yang buruk akan membawa tubuh juga ikut berperilaku buruk. Ini kunci yang ternyata saya mampu melakukan perubahan dalam beberapa hal. Misalnya, yang semula biasa tidur lagi setelah bangun pagi, dan berangkat siang bekerja, sekarang berbalik. Saya tetap terjaga setelah bangun pagi dan sempat bercengkerama dengan keluarga secara bebas, karena memiliki waktu cukup luang. Saya yang biasa berangkat kerja sekitar pukul 10.00 menjadi lebih pagi.

Yang membuat saya ‘Gila’ adalah bahwa saya menyampaikan impian saya sebagai motivator terkenal kepada pejabat tinggi di Pemkot Cilegon. Semula saya katakan kepada Sekda Abdul Hakim Lubis dan setelah itu kepada Walikota Cilegon Tb Iman Ariyadi.

Ini saya lakukan agar saya benar-benar memiliki semangat yang kuat untuk mewujudkan cita-cita hidup menuju yang lebih baik. Mengapa keduanya yang saya pilih, karena sekda adalah jabatan puncak karir di birokrat, dan walikota adalah orang nomor 1 di sebuah daerah. Ini kelak akan menjadi sejarah bagi saya dan menjadi kebanggaan bagi keturunan saya kelak, betapa ayahnya, atau kakeknya, melakukan ke-gila-an semacam itu.

Ingin tahu apa perbincangan saya dengan walikota? Akan saya bocorkan.
Ketika itu, saya diantar masuk untuk bertemu walikota oleh Kabag Kominfo Pemkot Cilegon Zaenal Musadad pada Senin (6/6).

Saya katakan. “Pak Walikota, Anda adalah orang sukses, dan saya ingin seperti Anda. Bukan sebagai walikota, tetapi ingin belajar mendapatkan motivasi kuat agar cita-cita bisa tercapai.”
“Memang kenapa,” kata walikota.
Saya bilang, “Saya ini sudah berusia 30 tahun, dan tidak mungkin masih menjadi wartawan di usia 35 apalagi 40 tahun.”
“Terus apa yang kamu cita-citakan, jadi pegawai,” kata walikota.
“Tidak Pak Wali,” sahut saya. “Saya ingin sampaikan kepada Pak Wali bahwa saya hanya ingin menjadi penulis buku dan motivator atau seorang trainer sukses. Saya ingin belajar kepada Pak Wali terkait bagaimana menjemput kesuksesan, karena pak wali saat ini sudah mendapatkannya,” saya tambahkan.
Walikota hanya tersenyum, mendengar saya.
“Begini pak wali. Jalan saya untuk menjadi motivator terkenal sudah terbuka. Pertama, pada 29 Juni 2011 nanti, PWI akan menggelar raker yang di dalamnya ada training motivasi dengan durasi penyampaian materi 4 jam. Kemudian pada 3 Juli, saya akan ikut sendiri workshop terkait motivasi oleh pemateri yang sama, hanya waktunya bertambah menjadi 8 jam. Kemudian, setelah lebaran, saya juga akan ikut workshop training of trainer (TOT), artinya saya ikut pelatihan menjadi trainer dengan waktu ajar 12 jam. Jika itu sudah saya lalui, maka saya sudah menjadi motivator,” kata saya.
“Bukankah itu hanya pekerjaan sosial tanpa profit,” ujar walikota.

“Tidak pak, itu jelas pekerjaan halal yang mungkin saya bisa kaya setelah berprovesi sebagai seorang motivator. Sebab, setiap yang ikut training motivasi, harus membeli tiket serendah-rendahnya Rp 350.000 bahkan ada yang mencapai jutaan rupiah dengan minimal peserta 60 orang. Jika dikalikan, maka terkumpul Rp 18 juta. Jika untuk biaya hotel dan makan Rp 10 juta, kemudian untuk properti Rp 3 juta, maka masih ada sisa Rp 5 juta, dari hanya berbicara 8 jam,” saya jelaskan kepada walikota.
“Tidak hanya bertindak sosial, mendorong manusia untuk optimistis menjemput kesuksesannya, tetapi juga ada nilai profit yang bisa membuat saya jadi kaya. Seperti halnya profesi lain, seperti dokter, bidan, dan sejenisnya. Mereka menolong, tetapi berhak untuk dihargai,” saya sampaikan kepada walikota.
“Kalau begitu saya dukung,” walikota menegaskan.
Saya sangat puas menyampaikan itu, meskipun bagi sebagian orang sangat lucu dan sangat ‘gila’ mungkin, saya menyampaikan hal pribadi semacam itu kepada walikota yang kesehariannya terjadwal. Artinya, orang yang ingin bertemu dengannya juga dipandu ajudan, karena memang jadwalnya sangat padat itu.
Ilmu yang saya dapatkan dari Sekda Cilegon belum saya sampaikan dalam tulisan ini, karena cukup untuk konsumsi diri saya sendiri, dan saya akan tulis dalam kesempatan berbeda.

Ke-gila-an yang saya alami ini juga saya sampaikan kepada yang lain agar mereka mengetahui dan kelak mendukung perjalanan saya yang ingin menjadi motivator handal. Sehingga pada malam ini Selasa (7/6), atau 2 jam sebelum tulisan ini saya buat, saya menyebarkan sms kepada tiga teman yang saya sangat percaya kepada mereka bahwa mereka benar-benar mendukung cita-cita saya.
Berikut bunyi sms yang saya sampaikan. “Cuy, ingatkan gw kelak. Kalau gw sdh jadi motivator, minimal stelah ikut TOT (training of trainer / setelah lebaran), bahwa gw akan memberikan training motivasi gratis kpada anak2 jalanan dan pengamen.” Ketiga teman yang saya kirimkan sms tersebut membalas sms dengan bentuk dukungan. Terakhir sms yang saya sampaikan kepada ketiga temen saya itu adalah. “Sip. Langkah saya ke ksuksesan harapan itu tinggal 30 cm lagi.”
Ini saya sampaikan agar saya lebih bersemangat mengejar cita-cita itu, karena waktu menuju 30 cm itu sangat singkat. Hehehe...
Saya benar-benar gila, karena melakukan perubahan diri, berupa sikap optimistis yang begitu cepat. Ke-gila-an ini akan saya pertahankan terus hingga akhir hayat menjemput. Amin....!!

Selasa, 07 Juni 2011

Hancurkan Mental Block

Penulis: Oji Faoji
Ditulis: Minggu 5 Juni 2011

KALAU boleh saya katakan bahwa ada dua faktor yang mendorong kita menjadi sukses dan mampu mewujudkan apa yang diinginkan. Kesuksesan tersebut tidak hanya dari faktor eksternal, misalnya telah membaca buku-buku dan mengikuti pelatihan-pelatihan dari motivator terkenal sekelas Bong Chandra, Mario Teguh dan Ippho 'Right' Santosa, atau motivator kelas dunia seperti Marc Salem, saja.

Kesuksesan tersebut juga harus ada dorongan kuat dari internal, yaitu diri kita sendiri. Artinya, sejauh mana kita telah melaksanakan apa-apa yang kita baca dan simak dari pelatihan-pelatihan para motivator tersebut.

Jika kita hanya membaca dan mengikuti pelatihan-pelatihannya saja, tanpa mempraktikannya, ya tidak mungkin kesuksesan itu tercapai. Sebab, kita akan sukses seperti mereka yang kita baca bukunya, seperti mereka yang kita ikuti pelatihannya, jika telah melakukan apa-apa yang mereka lakukan.

Memang bukan perkara mudah untuk kita bisa merealisasikan apa-apa yang sudah kita baca dan pelajari, selama kita masih mempertahankan mental blcok yang ada pada diri kita. Dengan demikian, mental block itu harus kita hancurkan.

Dengan cara apa, yaitu dengan kita menjadi motivator bagi diri kita sendiri. Kita yang menggerakan semua yang ada pada diri kita.

Lebih jelasnya, dalam sebuah artikel Tung Desem Waringin, motivator ternama Indonesia, pernah dijelaskan tentang bagaimana menghancurkan mental block yang mengganggu diri kita. Namun sebelum itu, saya sedikit ingatkan kepada Anda, bahwa nama Tung Deesem tidak asing bagi warga Banten, khususnya wilayah Kota Serang. Sebab, sekitar tahun 2009, Tung Desem Waringin pernah menyebar uang miliknya senilai miliaran rupiah melalui helikopter di sebuah lapangan di sekitar Kecamatan Taktakan di Kota Serang. Kontan saja masyarakat berebut dan meraup keuntungan dari yang dilakukan Tung Desem Waringin terebut.

Menurut Tung Desem Waringin, di dalam hidup ini kita berjalan sesuai dengan apa yang kita pikirkan dan yang kita rasakan. Kalau ibarat mengendarai mobil, kalau mobil itu tidak ada halang-halangan, maka akan lancar, sehingga akan cepat sampai tujuan. Namun apabila mesin tersebut ngadat atau ada yang rusak, maka akan menghambat kita sampai tujuan. Seperti itulah mental block

Lebih jelasnya, mental block adalah salah satu penghambat kita untuk mencapai tujuan atau impian kita. Ccontoh mental block adalah kondisi dimana keyakinan yang menghambat, misalnya takut. Takut adalah salah satu mental block apabila kita takut gagal, perasaan takut ini membuat kita takut untuk bertindak. Kita tahu bahwa jika sudah takut bertindak, maka tidak mungkin ada hasil. Kita harus merubah perasaan takut tadi menjadi berani atau manjadi percaya diri.

Dikatakan Tung Desem, cara menghancurkan mental block yang menghambat dengan hipnosis itu bisa dikatakan dengan relaksasi bahwa saya adalah seorang yang percaya diri dan berani. Jadi mulai hari ini saya adalah seorang pemberani dan percaya diri. Tidak hanya itu, jika ada mental block lainnya yang menghalangi, misalnya kita tidak pantas menjadi orang kaya, maka tidak akan kaya.

Artinya, mental block yang seperti itu juga harus dihancurkan, dengan cara melakukan relaksasi dan mengatakan bahwa kita layak menjadi orang kaya atau menjadi orang sukses.

Dengan cara hipnosis, kata Tung Desem, jauh lebih mudah, seperti masuk ke dalam kondisi relaksasi dan kita sugesti bahwa kita orang yang layak, orang yang berharga, sehingga kita patut menjadi orang kaya orang sukses.

Motivator sukses lainnya, yakni Gheanez Reza, dalam pertemuan Sabtu (4/6) sore lalu, mengatakan bahwa yang menghalangi kesuksesan adalah mental block. Contoh sederhana bahwa seorang marketing terkadang ada yang lebih menginginkan klien yang dihubungi tidak mengangkat, karena faktor kekhawatiran tidak mau beli produk misalnya, atau kekhawatiran-kekhawatiran yang lain. Nah kekhawatiran-kekhawatiran tersebut adalah mental block yang harus dihancurkan.

Dikatakan Reza, ada mental block yang sudah terpatri dalam alam bawah sadar kita sejak masih anak-anak. Dan yang menciptakan mental bock terhadap diri kita adalah orangtua kita sendiri. Misalnya, ketika anak meminta uang jajan, orangtua sering marah-marah sambil mengatakan. “Kamu, minta jajan aja. Emang nyari duit gampang apa.” Pernyataan semacam itu masuk ke alam bawah sadar anak tersebut dan menjadi mental block yang membuat si anak tersebut, setelah besar merasa sulit untuk mencari uang.

Atau ada contoh lain yang sederhana bahwa ketika ada orang yang mengatakan kamu akan berubah. Orang tersebut justru mengatakan, “Wah, kayaknya saya belum bisa berubah (baik).” Atau ada yang lebih parah, “Saya mungkin tidak bisa berubah (baik).” Itu adalah mental block.

Solusinya adalah kuatkan pikiran kita dan lawan mental block tersebut dengan cara sering mengatakan dan menuliskan apa yang diinginkan, serta fokus melakukan perubahan.

Dengan demikian, coba kita catat apa saja yang menjadi mental block bagi kesuksesan diri kita, agar bisa dihancurkan dan diganti dengan fokus terhadap hal baik apa yang kita inginkan. Semoga berhasil.! (*)

Senin, 06 Juni 2011

Negative Thinking is The Best Teacher

Oleh: Oji Faoji
(4 Juni 2011 Dini Hari)

SESUNGGUHNYA saya termasuk yang alergi menggunakan bahasa Inggris, baik saat berkomunikasi, terlebih menulisnya. Alergi bukan kemudian gatal-gatal, tetapi khawatir keliru karena belum menguiasai yang akhirnya menjadi malu. Tapi lebih baik malu setelah melakukan, karena disitu ada pelajaran. Hehehe...

Tetapi justru kemudian, ini menjadi tantangan bagi saya untuk berani memberikan judul pada tulisan ini dengan berbahasa Inggris. Kebetulan judulnya tidak terlalu sulit, terlebih dibantu kamus.

Berpikir negatif atau Negative Thinking is The Best Teacher, alias adalah guru terbaik. Itu sangat benar, dan saya sangat yakin, seribu kali yakin bahwa Anda pun setuju dengan ini.

Kita tahu bahwa ada dua cara orang berpikir. Ada cara berpikir negatif, dan ada cara berpikir positif. Cara berpikir negatif adalah bagaimana akal dikuasai oleh nafsu untuk memikirkan hal-hal terburuk tentang diri sendiri maupun orang lain. Sedangkan berpikir positif adalah bagaimana potensi akal dikuasai untuk diarahkan kepada hal-hal yang memberikan dampak yang terbaik, baik kepada diri sendiri maupun orang lain.

Saya kira, Anda dan saya pernah atau bahkan sering berpikir negatif terhadap diri sendiri dan orang lain dan ini tidak bisa dipungkiri. Jika cara berpikir negatif itu justru berdampak buruk terhadap diri dan orang lain, maka tidak ada jalan lain kecuali menjadikan pengalaman buruk (berpikir negatif) itu sebagai guru terbaik.

Seperti hal nya saya yang berprofesi sebagai jurnalis (wartawan). Sangat sering digoda oleh pikiran-pikiran negatif itu. Wal hasil pekerjaan yang seharusnya berjalan sempurna menjadi gagal.

Misalnya, saat mendapat proyeksi dari redaksi untuk melakukan wawancara dengan narasumber, pikiran negatif selalu ikut serta saat proyeksi itu akan dilaksanakan. Berbagai macam hal buruk terpikir terkait sosok narasumber tersebut. Seperti timbul kata-kata, jangan-jangan orangnya nggak welcome, jangan-jangan susah ditemui, jangan-jangan tidak ada, jangan-jangan pengawalnya galak, dan lain sebagainya.

Pemikiran-pemikiran seperti itu, disadari atau tidak, telah menciptakan mental block yang sangat mengganggu dan bisa menggagalkan rencana. Jika sudah demikian, maka timbulah karakter pengikut yang mungkin bisa menjadi akut, yang tentunya berimbas pada karir. Kita menjadi malas, penakut, penuh kekhawatiran, dan lainnya.

Ingat bahwa apabila tidak dipercaya dalam suatu bidang pekerjaan, maka jangan harap kita mendapatkan karir yang baik pada bidang pekerjaan lainnya, jika cara berpikir seperti tersebut masih dipertahankan. Dan perlu diketahui bahwa karir dalam suatu pekerjaan ditentukan oleh nilai kepercayaan.

Karena itu, mari kita buang jauh-jauh cara berpikir demikian dan cukup menjadi guru berharga bagi kita dengan cara mengubah pola berpikir negatif dengan berpikir positif. Artinya, kalau kita mencoba melakukannya, tentu tetap ada hal yang bisa didapat. Misalnya ketika benar narasumber tersebut tidak ada di tempat, kita bisa buat janji dan yang penting, ada yang bisa disampaikan ke pimpinan bahwa memang yang dimaksud tidak ada di tempat. Atau ketika dianggap tidak welcome, jangan-jangan justru lebih familiar dari yang kita sangka kan. Intinya yang pasti adalah harus tetap positif thinking dan mencoba melakukannya.

Setelah ternyata negatif thinking tidak memberikan apa yang kita cita-citakan, mari sejak saat ini, kita mulai berperasangka baik, berpikir positif alias positif thinking. Baik disadari atau tidak, positif thinking akan membakar semangat kita untuk terus-terus dan terus melakukan hal terbaik.

Tugas wartawan lainnya adalah menulis informasi yang didapat dari hasil wawancara dengan narasumber. Jika berpikir positif saat melakukannya, maka akan ada semangat dan manfaat yang didapat, meski ketika berhadapan dengan monitor komputer berjam-jam.

Sedikit saya sebutkan manfaat yang justru akan didapat ketika melakukan pekerjaan dengan semangat, karena didorong oleh cara berpikir positif tadi. Ada manfaat terhadap fisik, terhadap mental, terhadap karir, terhadap hubungan dengan orang lain, termasuk terhadap spiritualitas kita.

Terhadap Fisik
Tentu kita akan sempat memikirkan dampak terburuk apa yang terjadi pada (kesehatan) fisik kita, apabila berlama-lama di depan layar monitor. Dengan begitu, kita akan mulai mencari tahu bahwa misalnya antara jarak pandang mata dengan layar monitor harus sejajar, atur pencahayaannya diatur agar tidak mengganggu mata. Kemudian, duduk berlama-lama juga bisa mengakibatkan sakit punggung. Dengan berpikir positif, pasti kita akan mencari tahu bagaimana solusinya, misalnya dengan memperbanyak minum dan menyesuaikan posisi duduk.

Terhadap Mental
Tentu saja ada dorongan semangat yang kuat dan mental sempurna yang bermuara pada hasil pekerjaan yang cepat dan tepat. Sebab, kalau pekerjaan dilakukan dengan pikiran negatif, ada unsur benci, murung dan lainnya, maka yang ada akan berantakan.

Terhadap Hubugan Baik dengan Rekan
Dengan berpikir positif, hubungan dengan siapapun, terlebih dengan rekan kerja akan tetap terjalin baik. Dengan hubungan yang terjalin baik, maka akan ada saling membantu dalam proses melakukan pekerjaan, karena satu sama lain saling berkaitan dan membutuhkan.

Terhadap Spiritual
Dengan berpikir positif, akan timbul proses dan hasil kerja yang baik. Maka proses dan hasil kerja tersebut bisa menjadi ibadah.

Sekali lagi mari kita mengingat bahwa ketika telah berpikir negatif yang hasilnya tentu saja berdampak buruk, maka harus langsung kita sadari itu dan beralih menggunakan cara berpikir positif. Namun sebelum itu, terlebih dahulu rileks dengan menarik nafas dengan 10 hitungan, menahannya dalam 3 hitungan dan membuangnya dengan 10 hitungan.

Silakan mencobanya dan semoga bermanfaat.! (*)

Minggu, 05 Juni 2011

Upgrade Your Mind

Oleh: Oji Faoji

SABTU 4 Juni 2011 sore, saya dipertemukan langsung dengan salah seorang trainer handal. Motivator yang dijuluki sebagai Master Mind Navigator dan Mind Programming Coach ini adalah Mr Gheanez Reza.

Pertemuan ini sungguh tidak diperkirakan. Mulanya seorang teman menawarkan kepada saya untuk mengikuti workshop Mind Programming for Excellen Life, pada Minggu 3 Juli menadatang di Hotel Mahadria, Kota Serang.

Sebelum akhirnya bertemu dengan Mr Reza, sapaan akrab Gheanez Reza, saya meminta teman datang ke rumah saya pada jam satu (13.00) pada hari yang sama untuk mendalami informasi tentang kegiatan tersebut. Saya katakan kepada teman yang juga event organize Mr Reza bahwa saya ingin bertemu terlebih dahulu dengan trainernya sebelum mengikuti kegiatannya nanti.

Sebagai orang yang bercita-cita menjadi trainer dan motivator handal, tentu saya sangat berharap bertemu di luar forum seminar, workshop atau pelatihan-pelatihan, tidak hanya dengan Mr reza, tetapi juga dengan seluruh motivator yang sudah sukses saat ini, termasuk dengan Bong Chandra, Ippho Right Santosa, Tung Desem Waringin, Andire Wongso, dan juga Mario Teguh.

Ini perlu saya lakukan agar bisa lebih terjiwai dan cita-cita menjadi motivator terbaik benar-benar terwujud.

“Waduh, saya tidak tahu nih, apakah dia (Mr Reza-red) ada waktu saat ini, karena jadwalnya padat. Terlebih ia adalah direktur di sebuah perusahaan,” ujar teman saya itu.

Saya kembali meminta teman agar mencari waktu luang Mr Reza agar bisa bertemu. “Coba nanti saya telepon dulu. Mudah-mudahan bisa,” katanya.

Ternyata apa yang terjadi, saya sungguh mujur. Pada hari yang sama dan hanya beda 2 jam dari kami membicarakan itu pada pukul 15.00 WIB. Saya langsung bisa bertemu dengannya pukul 17.00. “Kebetulan brow, dia sore ini ada jadwal di Cilegon. Kita bisa temui nanti sore,” kata teman tadi.

Begitu senang rasanya hati ini, karena saya juga tinggal di Cilegon. Jadi, tidak perlu biaya besar dan waktu yang banyak untuk dipertemukan dengan Mr Reza.

Ternyata, kinginan yang saya sampaikan ke alam bawah sadar dikabulkan Allah SWT, dan saya sangat bersyukur atas pertemuan pertama kami.

Sedikit saya ceritakan tentang Mr Reza. Beliau adalah orang yang pernah memiliki keinginan sama dengan saya, yaitu sebagai motivator hebat. Buku terkait motivasi ia miliki dengan berbagai macam pengarang yang juga trainer.

Untuk mewujudkan mimpinya itu, Mr Reza hingga pernah mengikuti workshop di Singapura dari motivator dunia, yang biaya tiketnya saja saat itu Rp 20 juta. Dengan modal pinjaman dari pamannya, Mr Reza berangkat untuk bertemu dengan motivator idolanya. Setelah itu, kemudian mempelajari, dan menerapkan apa yang ia dapati.

Dan kini, ia sudah menjadi motivator handal. Di Banten saja, ia telah menggelar workshop angkatan ke-3. Di luar workshop, Mr Reza juga sering menjadi pembicara di beberapa seminar motivasi.

Sekadar diketahui, pertengahan Juni ini, tepatnya tanggal 18-19, Mr Reza juga kembali akan mengikuti workshop kelas dunia di Australia, yang harga tiketnya Rp 50 juta.

Menurut Reza, apa yang saya alami, dengan bertemu motivator seperti dirinya hanya dalam waktu dua jam sejak keinginan itu dimunculkan, adalah buah dari motivasi kuat sehingga masuk ke alam bawah sadar, dan alam bawah sadar mendorongnya ke alam sadar.

“Mungkin Anda pernah membicarakan seorang teman karena lama tidak bertemu, tiba-tiba dalam waktu beberapa saat, teman tersebut datang, atau menelepon, atau sekadar sms. Sehingga kita sering mengatakan, baru saja diomongin datang (nelepon/sms), panjang umurnya, nah itu lah hasil kerja alam bawah sadar,” kata Reza kepada saya.

Contoh lainnya, kata Reza, kita pernah memiliki rasa khawatir ditilang, dan tiba-tiba benar saja, ada polisi lalu lintas yang menghentikan paksa kendaraan kita. “Itu adalah bagian dari kekuatan pikiran kita yang masuk alam bawah sadar, dan mewujudkannya di kehidupan sadar,” katanya.

Karena itu, imbuh Reza, upgrade your mind (program ulang pola pikir Anda) dengan cara sering menulis dan mengatakan hal-hal positif yang kita inginkan. Maka dengan terus dikatakan dan dituliskan, apa yang menjadi keinginan kita, itu akan masuk ke alam bawah sadar dan pasti akan diwujudkan, yang terpenting fokus.

Sejauh ini, masih kata Reza, seseorang jarang bisa menyebutkan apa yang menjadi keinginannya yang positif, dan justru lebih banyak gampang menyebutkan suatu keinginan yang negatif.

“Mestinya, biasakan menyebut dan menuliskan bahwa saya ingin kaya, punya mobil dan rumah mewah, memiliki perusahaan pribadi dan sebagainya. Suatu saat, ada dorongan kuat untuk berjuang keras mewujudkannya. Kalau yang dikatakan misalnya saya takut miskin, takut tidak bisa, dan contoh lainnya, maka tidak aka nada yang bisa diwujudkan,” Reza menandaskan.

Dengan demikian, kata Reza, mulailah memberikan masukan hal-hal yang baik untuk dikonsumsi alam bawah sadar Anda, agar alam sadar akan meresponnya dengan baik. Artinya bukan justru hal-hal negatif.

“Seperti misalnya lagi, jika terus mengatakan, semangat, semangat, semangat, maka pasti akan bersemangat. Tapi kalau mengatakan huh, saya capek, lemah, letih, loyo, maka yang didapat juga sama. Intinya bahwa apa yang diinginkan, maka akan tercapai,” katanya.

Apa yang disampaikan Reza tersebut, saya bawa pulang dan akhirnya dengan dorongan motivasi yang kuat bahkan sampai saya tulis status di akun facebook bahwa saya malam ini harus menulis dua tulisan, dan akhirnya satu tulisan sudah saya selesaikan hanya dalam waktu 45 menit. Tulisan kedua saya juga selesai di malam yang sama dengan judul “Hancurkan Mental Block.” Saya yakin, ini karena aktivasi dari kekuatan pikiran alam bawah sadar itu.

Terakhir yang membuat saya lebih bersemangat bahwa cita-cita saya akan tercapai, Mr Reza menawarkan saya untuk ikut dalam club trainer, dimana akan ada materi khusus untuk menjadi seorang trainer, yang biayanya cukup terjangkau.

Tawaran tersebut akan direalisasikan Reza setelah lebaran. Ini artinya bahwa begitu besar peluang bagi saya untuk menjadi seorang wartawan yang juga motivator handal. Amin..! (*)

Jumat, 03 Juni 2011

Benci Dianggap Baik

Oleh: Oji Faoji

Saya mengartikan benci sebagai kata yang menunjukkan ketidaksukaan klimaks seseorang terhadap orang lain. Meski begitu, saya meyakini bahwa pembaca juga memiliki interpretasi lain terhadap kata benci. Jika sependapat dengan benci seperti yang saya maksud, maka kita sepakat bahwa ada beberapa hal yang membuat seseorang menaruh rasa benci, ada karena dikecewakan, dibohongi, dikhianati, dan lainnya.

Sedikit saya bercerita, yang cerita ini terjadi belum lama, yakni sekitar awal 2011. Selebihnya begini. Mulanya seorang ibu rumah tangga (IRT), membuka akun facebook. Secara kebetulan, di branda saya saat itu, ia tangah berulang tahun yang ke-24. Tetapi entah mengapa, di hari ulang tahunnya, ia justru menuliskan status dengan kalimat cacian dan kecaman. Ia seolah lupa bahwa sesungguhnya hari itu adalah hari bahagia, seperti kebanyakan orang yang menganggap bahwa hari ulang tahun adalah hari bahagia.

“What on your mind..??” IRT itu menjawab melalui statusnya, “Aku benci kamu..!! Aku sudah memberikan yang terbaik, kamu justru membalasnya dengan air tuba,” katanya.

Tanpa bermaksud ikut campur dalam urusan rumah tangganya, saya klik jendela di pinggir kanan untuk coba melakukan komunikasi melalui chating. Sekadar diketahui bahwa IRT dimaksud adalah teman yang ditemui melalui facebook dan ia saat ini tinggal di Bandung, Jawa Barat, sedangkan posisi saya ketika itu berada di Cilegon, Banten.

“Selamat ulang tahun ya bu..” saya memulai perbincangan. “Terima kasih. Tapi percuma, hari ulang tahun ini tidak berarti apa-apa,” katanya.

Belum sempat dikomentari, IRT itu menambah kalimat di jendela chating, yang cukup panjang dan intinya ia kecewa terhadap sang suami yang ia ketahui telah selingkuh dengan teman kerjanya. IRT ini merasa hancur dan tidak ada kalimat yang dicatatkannya, selain mencaci dan memaki suami yang sudah dua bulan tidak berkumpul bersama ia dan anak-anaknya.

Dan secara kebetulan, anak satu-satunya sedang dalam keadaan sakit keras. IRT ini membuka facebook untuk mengintip suaminya yang terkadang juga kepergok buka akun facebook.

Setelah IRT tersebut puas menulis via chating, saya justru kasihan terhadap anaknya yang sakit. Saya coba mengingatkan dia agar berhenti fokus membenci suaminya, dan menggantinya dengan lebih fokus merawat anaknya yang sakit. Saya bilang, “Jika marah dan benci membuat kamu merasa tenang hingga bisa fokus merawat anak mu yang sakit, maka marah dan benci menjadi baik. Tetapi jika benci justru membuat anak mu yang sakit telantar dan kurang mendapat perawatan, maka benci menjadi tidak baik.”

Saya berani katakan itu, karena mungkin nantinya, dia bukan hanya kehilangan suami yang sebelumnya telah meninggalkannya sendiri, tetapi juga mungkin anaknya.

Setelah berselang sekitar 5 menit, ia baru kemudian manjawab. “Saya hanya manusia biasa yang sulit tidak membenci orang, terlebih terhadap yang telah mengecewakan saya. Pokoknya hati saya hancurrr.....!!,” katanya.

Setelah itu, saya keluar dari jendela chating tersebut, dengan terlebih dahulu menyimpan pesan bahwa membenci belum tentu menjadi solusi.

Tiga hari kemudian, IRT ini kembali menulis status di facebook bernada penyesalan. “Maafkan aku terlalu terlena dan egois. Ya Allah tempatkan anakku di sisi-Mu,” katanya.

Jika sudah begitu, maka penyesalan pun tiada arti. Betul kan..? Apa yang disebutkan di atas adalah sekadar contoh yang mungkin tidak hanya terjadi pada IRT tersebut. Intinya bahwa marah, maupun benci, jangan sampai membuat buta, sehingga tidak tampak, mana sesungguhnya yang perlu mendapat prioritas perhatian. (*)

Kamis, 02 Juni 2011

Jangan Menikah Sebelum Kaya

Oleh: Oji Faoji (Kamis dini hari)

Menikah, tidak hanya terjadi karena dorongan fitrah, tetapi bagi ummat beragama juga merupakan suatu aktivitas yang diperintahkan, sehingga disebut ibadah.

Dari sisi bahasa, menikah adalah dipersatukannya dua manusia, yang terdiri dari jenis kelamin laki-laki dan perempuan melalui ikatan resmi, bahkan sakral.

Dengan menikah, maka wanita yang kemudian disebut istri, dan pria sebagai suami, dibolehkan (dihalalkan) melakukan hubungan badan hingga memiliki keturunan. Keturunan-keturunan tersebut diharapkan bisa melanjutkan estafeta kehidupan ke arah yang lebih baik.

Agama mengajarkan bahwa sebelum pernikahan terjadi, laki-laki dan wanita tidak dibenarkan berhubungan badan. Jika itu terjadi, maka disebut zina. Dengan demikian saya menyimpulkan bahwa menikah dilakukan untuk menghindari zina.

Dalam menanggapi pernikahan, biasanya calon pengantin pria banyak yang merasa memiliki beban tersendiri, terlebih di daerah yang mengedepankan budaya bahwa pernihakan harus dirayakan semeriah mungkin, bukan hanya akad dan resepsi saja, tetapi juga menampilkan berbagai jenis hiburan, mulai dari dangdutan, qasidah, gambus, film layar lebar, hingga tari-tarian tradisional lainnya. Tidak berhenti di situ, peseta pernikahan juga harus elegan, tidak hanya dengan dalam kontek busana, tetapi juga ornamen alias tata rias diri dan tempat resepsi.

Pernihakan harus dikabarkan agar khalayak tahu bahwa seorang pria dan wanita saat itu sudah sah sebagai suami istri dan boleh melakukan apapun yang berkaitan dengan kehidupan suami istri.

Dengan prinsip itu, ada yang beranggapan, pernikahan harus dilaksanakan semeriah mungkin hingga tidak sedikit pria yang takut atau belum mau melangsungkan pernikahan, hanya karena belum memiliki biaya selama prosesnya.

Saya cerita sedikit. Dua tahun lalu, seorang teman mengungkapkan isi hati, alias curhat (mencurahkan isi hati) kepada saya. Dia bilang, “Usia saya sudah 27 tahun dan sudah memiliki calon pasangan hidup. Namun, rasanya kami tidak bisa melanjutkannya ke jenjang pernikahan, karena saya belum punya duit banyak,” kata teman, sebut saja Laban (bukan nama sebenarnya).

Saya tanya, apa yang membuatmu berpikir seperti itu? Laban kemudian menjawab. “Orangtua pacar (calon istri) meminta biaya pernikahan yang sangat sulit saya penuhi, yaitu Rp 24 juta. Sedangkan saya punya uang Rp 5 juta dan itu pun bersamaan dengan untuk mas kawin. Padahal kami saling mencintai,” katanya.

Tapi selang beberapa bulan, akhirnya mereka menikah juga setelah orangtua perempuan menurunkan harga tawar biaya pernikahan hingga sesuai dengan kemampuan Laban. Ini juga setelah anaknya diketahui sudah telat datang bulan.

Contoh di atas sesungguhnya mungkin banyak terjadi. Bahkan tidak sedikit juga yang belum menikah padahal berusia lebih dari 30 tahun, hanya karena belum punya uang banyak dan karena masih menganggur.

Padahal, kalau melihat rukun menikah sangat sederhana. Hanya perlu pasangan laki-laki dan perempuan, wali nikah, saksi dan mas kawin. Jika itu ada, sesungguhnya pernikahan sudah sah dilakukan.

Akad nikah dan resepsi pernikahan idealnya dilakukan secara meriah, dengan menyajikan pesta besar, apabila keduabelah pihak mampu dan ikhlas. Akan tetapi jika dipaksakan, hingga ada kabar bahwa suami istri yang baru menikah harus kerja banting tulang hanya untuk membayar utang sisa pesta pernikahan mereka. Mereka yang seharusnya fokus menikmati awal pernikahan dengan berbulan madu, menjadi pecah konsentrasi karena harus juga memikirkan pembayaran utang.

Terkait pernikahan, saya sungguh laki-laki yang sangat beruntung. Keberuntungan ini hadir, karena memang kami yang menciptakan dan bukan datang dengan sendirinya. Kalau boleh saya bercerita tentag proses pernikahan kami.

Sekitar tahun 2004, saya dengan istri bertemu dalam suatu forum diskusi. Ketika itu, satu sama lain kami tidak begitu menunjukkan rasa suka. Setahun kemudian, pertemuan dalam suasana serupa terjadi, dan saat itu, saya memang menaruh rasa suka kepadanya. Namun itu berlalu begitu saja, karena pertemuan kami berlangsung singkat.

Begitu lama tak bertemu, bahkan kami saling kehilangan jejak. Entah ada angin apa, pada awal tahun 2006, istri saya ketika itu mengirim pesan singkat via ponselnya. Entah dari mana ia dapat nomor telepon saya, dan akhirnya komunikasi kita aktif.

Setelah beberapa pekan berkomunikasi via ponsel, saya coba arahkan ke pembicaraan lebih serius (pernikahan), karena usia saya ketika itu (tahun 2006) sudah 25 tahun dan dia 19 tahun.

Selama menjalin hubungan kasih, hingga menikah pada 9 Juli 2006 atau tepatnya Final Piala Dunia, yang ketika itu Italia juaranya, saya dan istri belum pernah punya kesempatan jalan bareng, karena jarak rumah kami cukup jauh, yaitu hingga sekitar 80 kilometer dan komunikasi kami lebih banyak dilakukan via telepon.

Ketika pertama mengajak menikah, modal saya hanya satu, yaitu keberanian dan yakin pernikahan terjadi. Saat itu, sama sekali saya tidak punya uang pribadi, karena hanya sebagai pekerja sedikit waktu sebagai pembantu di sebuah rentalan komputer.

Ketika istri mengatakan, “Apakah kamu serius.” Saya jawab, sangat serius. Kata istri, “Kalau begitu cepat lamar saya.” Kemudian saya tegaskan kepadanya, bahwa saya tidak bisa menikahinya saat itu, karena masih miskin. Tunggu saya hingga kaya dahulu, kalau kamu ingin pernikahan kita dipestakan secara meriah, dan sampaikan hal ini kepada keluarga mu. Istri kemudian mengatakan, “Baiklah akan saya sampaikan,” katanya.

Tak lama berselang, istri kemudian menghubungi lagi. “Tidak perlu menunggu kaya hanya untuk menikah, karena kaya akan kita dapati setelah menikah nanti,” katanya.

Saya sungguh terkejut dengan perkataan itu, dan saya semakin percaya diri. Sehingga ketika ibu saya bertanya, apa benar saya siap menikah dan punya uangnya, saya katakan sangat siap. Ini dikatakan ibu, karena memang kami bukan dari keluarga berpunya. Ibu hanya seorang pedagang kueh basah yang berkeliling ke sejumlah pasar.

Setelah itu kami bicarakan tentang mas kawin. “Mas kawin seperti apa yang kamu inginkan.” Istri kemudian menjawab, “Kalau bisa emas,” katanya. Saya bilang, kalau begitu, pernikahan kita tunda dulu sampai saya dapat kerja layak dan mampu membeli emas untuk pernikahan kita.

“Baiklah, emas akan kita dapatkan setelah menikah,” kata istriku. “Kalau begitu saya minta tabungan di Bank Muamalat Syar’i. Jumlah isi tabungannya Rp 29.486,” kata istri saya.

Saya kemudian tanya, kok cuma segitu? Dia bilang, itu adalah total jumlah dari penggabungan tahun kelahiran kita. “Ini juga agar semuanya memaklumi. Sebab, kalau hanya berupa uang, mas kawin segitu, saya khawatir kamu malu. Tapi kalau degan tabungan dan jumlahnya adalah gabungan tahun kelahiran kita, saya kira hal itu juga dilakukan banyak orang kaya,” istri saya menjelaskan.

Saya kemudian mencari tahu, dan akhirnya tabungan dengan nilai sekecil itu bisa terpenuhi dengan mudah. Ketika menikah pada 9 Juli 2006. Sang naib (penghulu) sempat terheran dan meminta persetujuan yang hadir ketika itu, apakah mas kawin menggunakan tabungan sah atau tidak. Istri saya kemudian mengatakan, “Nikahkan kami, karena mas kawin berupa tabungan Rp 29.468 itu adalah permintaan saya.” Saya sungguh bangga dan merasa tidak salah mempersunting istri.

Akhirnya tidak lama setelah menikah, saya menerima tawaran kerja sebagai wartawan hingga sekarang. Alhamdulillah, pada usia pernikahan 3 tahun, kami sudah diberi rezeki berupa dua anak, yakni perempuan dan laki-laki. Apa yang disampaikan istri sebelum kami menikah, saat ini sudah tercapai. Dalam usia perkawinan hampir 5 tahun, kami sudah memiliki segala kebutuhan keluarga (tercukupi), dan yang lebih penting, saya sudah menghadiahkan mas murni kepada istri seberat 9 gram, dan istri sekarang sedang melanjutkan studi di sebuah perguruan tinggi, dan tengah bersiap menyusun skripsi. Alhamdulillah.

Saya yakin, sebagian banyak dari Anda juga mengalami keberuntungan seperti saya saat menikah, bahkan mungkin lebih mampu menciptakan keberuntungan itu dari saya. Dan bagi Anda yang belum berani menikah, tunjukan bahwa Anda adalah pemberani.

Hanya butuh komunikasi efektif dan kesungguhan dari calon pasangan untuk meyakinkan pihak yang menghalang-halangi pernikahan Anda hanya karena factor budaya.


Mudah-mudahan ini menjadi salah satu inspirasi untuk menguatkan keyakinan bahwa menikah sesuatu hal yang harus dilakukan dengan penuh sadar di antara kedua belah pihak, karena menikah adalah ibadah. (*)