Motivasi

Senin, 13 Juni 2011

Belajar dari Pernikahan Teman

Penulis: Oji Faoji
Senin, 13 Juni 2011

Wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril, adalah perintah untuk membaca. Tuhan memerintahkan kepada Nabi untuk membaca. “Bacalah...”, kata ini sampai diulang beberapa kali, karena begitu sangat penting untuk dilakukan. Padahal ketika itu (di Gua Hira), tidak ada tulisan yang bisa dibaca.

Pelajaran apa yang bisa diambil dari sedikit sejarah Nabi di atas? Jawabannya sangat luar biasa.

Ini artinya bahwa membaca tidak hanya sekadar tekstual, tetapi juga kehidupan riil di sekitar kita. Setelah membaca, maka kita bisa menjadikan apa yang dibaca sebagai pelajaran dan setelah itu bisa melakukan perubahan pada diri ke arah lebih baik.

Membaca tekstual yang tertuang dalam buku sangat penting, karena buku adalah kumpulan tulisan yang bisa berdasarkan fakta, maupun hasil penelitian para ahli. Semakin banyak membaca buku, maka semakin banyak pula kita mengetahui sesuatu yang belum diketahui dari para ahli. Kalau saja setiap bulan kita membaca 2 buku, maka dalam setahun atau 12 bulan, kita bisa membaca 24 buku berlainan yang dibuat para ahli. Dengan demikian artinya bahwa kita bisa memiliki disiplin ilmu yang sangat luas.

Membaca lingkungan di sekitar kita adalah suata tindakan yang juga sangat penting. Kita bisa belajar dari teman, kesuksesan teman, kegagalan teman atau kita belajar kepada diri kita sendiri, kemajuan-kemajuan yang dilakukan, kegagalan-kegagalan di masa lalu, dan belajar kepada alam. Intinya adalah hal bermanfaat apa yang bisa diambil untuk menjadi pelajaran dan berpengaruh terhadap perbaikan hidup kita.

Sedikit saya cerita tentang sikap optimistisme yang dipegang seorang teman. Pada Minggu 12 Juni 2011, saya bersama beberapa teman berangkat menuju lokasi pernikahan teman kami itu. Berangkat pagi berharap ikut menyaksikan proses akad nikah, tetapi tiba di lokasi pas matahari berada di atas kepala.

Sebenarnya kami sudah berada di sekitar lokasi, karena undangan yang disebarnya tidak menggunakan surat yang di dalamnya disertakan lokasi resepsi, akhirnya kami sempat nyasar. Terlebih di depan gang masuk menuju lokasi, tidak ada tanda-tanda lain, seperti janur kuning yang biasanya menunjukkan ada pesta pernikahan.

Setelah tiba di tempat acara, kami baru tahu bahwa acara digelar secara sederhana. Ketika masuk ke tempat acara, saya melihat teman tersebut tersenyum riang seolah tanpa ada beban yang menggelayuti. Dia seperti terlepas dari sebuah bandulan yang berat. Dia sangat-sangat tampak riang. Dua hari sebelum pernikahannya, teman saya juga masih bekerja biasa seperti tanpa ada beban. Padahal biasanya, pria yang sudah dekat di waktu pernikahannya, banyak hal yang dipikirkan.

Apa yang dirasakannya tampak sama dengan pasangan mempelai lain yang saya juga menghadiri pesta pernikahannya pada Sabtu 11 Juni 2011.

Yang beda dari keduanya, adalah kemasan pestanya saja. Kalau pesta pernikahan teman saya berlangsung dengan sederhana, bahkan tidak ada kursi pengantin dan tata rias ruangan yang lazim ada. Sedangkan pernikahan yang saya hadiri sebelumnya, justru sebaliknya. Pesta digelar di sebuah gedung, dengan tata rias, dan kursi pengantin yang sangat luar biasa. Sangat glamor.

Kalau diperhitungkan dari sisi keduanya akan sangat terlihat jomplang jauh. Tetapi keriangan mereka tampak sama. Kalau saya boleh menduga, mereka tampak bahagia karena sudah memiliki pasangan yang sah, yang sebelumnya sangat mereka harapkan. Intinya, impian mereka tercapai.

Pesan
Pesan dari cerita di atas cukup sederhana. Jika Anda memiliki mimpi, apapun mimpi itu, maka kejar dengan langkah-langkah realisasi dalam setiap keseharian, waktu demi waktu.

Bagi Anda yang belum menikah dan sudah cukup umur, tidak perlu banyak pertimbangan. Lakukan saja dengan keadaan yang Anda mampu. Lakukan komunikasi dengan calon pasangan bahwa inti dari impiannya adalah menikah. Dengan banyak atau pun sedikit uang yang dikeluarkan untuk biaya pesta pernikahan, tidak akan merubah kebahagiaan yang dirasakan keduanya.

Yang dengan keadaan sederhana, mungkin lebih merasa tenang, karena tidak memaksakan diri berhutang hanya untuk pesta pernikahan dan kembali murung setelah menikah, karena harus mencari jalan keluar untuk menutupi biaya pernikahan tersebut.
Semoga bermanfaat....!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar