Motivasi

Jumat, 03 Juni 2011

Benci Dianggap Baik

Oleh: Oji Faoji

Saya mengartikan benci sebagai kata yang menunjukkan ketidaksukaan klimaks seseorang terhadap orang lain. Meski begitu, saya meyakini bahwa pembaca juga memiliki interpretasi lain terhadap kata benci. Jika sependapat dengan benci seperti yang saya maksud, maka kita sepakat bahwa ada beberapa hal yang membuat seseorang menaruh rasa benci, ada karena dikecewakan, dibohongi, dikhianati, dan lainnya.

Sedikit saya bercerita, yang cerita ini terjadi belum lama, yakni sekitar awal 2011. Selebihnya begini. Mulanya seorang ibu rumah tangga (IRT), membuka akun facebook. Secara kebetulan, di branda saya saat itu, ia tangah berulang tahun yang ke-24. Tetapi entah mengapa, di hari ulang tahunnya, ia justru menuliskan status dengan kalimat cacian dan kecaman. Ia seolah lupa bahwa sesungguhnya hari itu adalah hari bahagia, seperti kebanyakan orang yang menganggap bahwa hari ulang tahun adalah hari bahagia.

“What on your mind..??” IRT itu menjawab melalui statusnya, “Aku benci kamu..!! Aku sudah memberikan yang terbaik, kamu justru membalasnya dengan air tuba,” katanya.

Tanpa bermaksud ikut campur dalam urusan rumah tangganya, saya klik jendela di pinggir kanan untuk coba melakukan komunikasi melalui chating. Sekadar diketahui bahwa IRT dimaksud adalah teman yang ditemui melalui facebook dan ia saat ini tinggal di Bandung, Jawa Barat, sedangkan posisi saya ketika itu berada di Cilegon, Banten.

“Selamat ulang tahun ya bu..” saya memulai perbincangan. “Terima kasih. Tapi percuma, hari ulang tahun ini tidak berarti apa-apa,” katanya.

Belum sempat dikomentari, IRT itu menambah kalimat di jendela chating, yang cukup panjang dan intinya ia kecewa terhadap sang suami yang ia ketahui telah selingkuh dengan teman kerjanya. IRT ini merasa hancur dan tidak ada kalimat yang dicatatkannya, selain mencaci dan memaki suami yang sudah dua bulan tidak berkumpul bersama ia dan anak-anaknya.

Dan secara kebetulan, anak satu-satunya sedang dalam keadaan sakit keras. IRT ini membuka facebook untuk mengintip suaminya yang terkadang juga kepergok buka akun facebook.

Setelah IRT tersebut puas menulis via chating, saya justru kasihan terhadap anaknya yang sakit. Saya coba mengingatkan dia agar berhenti fokus membenci suaminya, dan menggantinya dengan lebih fokus merawat anaknya yang sakit. Saya bilang, “Jika marah dan benci membuat kamu merasa tenang hingga bisa fokus merawat anak mu yang sakit, maka marah dan benci menjadi baik. Tetapi jika benci justru membuat anak mu yang sakit telantar dan kurang mendapat perawatan, maka benci menjadi tidak baik.”

Saya berani katakan itu, karena mungkin nantinya, dia bukan hanya kehilangan suami yang sebelumnya telah meninggalkannya sendiri, tetapi juga mungkin anaknya.

Setelah berselang sekitar 5 menit, ia baru kemudian manjawab. “Saya hanya manusia biasa yang sulit tidak membenci orang, terlebih terhadap yang telah mengecewakan saya. Pokoknya hati saya hancurrr.....!!,” katanya.

Setelah itu, saya keluar dari jendela chating tersebut, dengan terlebih dahulu menyimpan pesan bahwa membenci belum tentu menjadi solusi.

Tiga hari kemudian, IRT ini kembali menulis status di facebook bernada penyesalan. “Maafkan aku terlalu terlena dan egois. Ya Allah tempatkan anakku di sisi-Mu,” katanya.

Jika sudah begitu, maka penyesalan pun tiada arti. Betul kan..? Apa yang disebutkan di atas adalah sekadar contoh yang mungkin tidak hanya terjadi pada IRT tersebut. Intinya bahwa marah, maupun benci, jangan sampai membuat buta, sehingga tidak tampak, mana sesungguhnya yang perlu mendapat prioritas perhatian. (*)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar